Jumat, 13 Februari 2015

13.02.15 : Ketemu Capt. Ariandi



Dunia kerja, apalagi pelayaran dan logistik, gak jauh-jauh deh. Suatu ketika bisa ketemu di jalan, kantor, ato dimana saja saat kita blusukan. Adaaa aja momennya.

Nah, kebetulan blon lama ini ketemu Capt. Ariandi yang kini sudah menjadi juragan disalah satu perusahaan logistik. Dulu sempat kerja bareng, saat menimba ilmu di PT Meratus Line. Bedanya, Capt Ari jadi pengusaha, RAM cocoknya jadi pegawai.

Ingat. Allah SWT punya rencana bagus buat kita semua. Selama kita bisa mensyukuri, Insya Allah, rejeki gak kemana-mana. Aamiin YRA. Terima kasih Yaa Allah masih bisa bersilaturahim dan menikmati suguhan rezeki-MU Cheers.


                                                      
                                                      Jakarta, 13.02.15.

Kamis, 12 Februari 2015

12.02.15 : Kandang Sapi

Kamis 12/02 menjelang siang di Stasiun Kalimas, Surabaya. Menemani tim Sucofindo untuk survey dan melakukan pengukuran area Kandang Sapi untuk perluasan lahan penumpukan kontainer. Semoga prosesnya berjalan lancar dan baik. Aamiin.


                                                     Kalimas, 12.02.15.

Rabu, 11 Februari 2015

11.02.15 : Ketemu Kurcaci Sumsel




Walau minus 1 (satu) orang yang sudah tidak bergabung di PT Kereta Api Logistik tetapi Insya Allah jalinan persaudaraan 4 (empat) kurcaci yang pernah mejeng dan kerja di Sumatera Selatan, masih terjalin dengan baik.

Pas kebetulan, hari Senin 09/02 ada pertemun di kantor pusat, ehhh gak disangka muncullah para kurcaci di Jakarta. Ya sekedar melepas kangen, gpp lah ber-haha hihi sejenak, malah sempat narsis sejenak.
Berikut ini cuplikannya. Cheers !

Jakarta, 09.02.15.

Sabtu, 07 Februari 2015

07.02.15 : Trowulan - Candi Gentong

TRoWuLaN: Usai melihat-lihat Candi Brahu, perjalanan di lanjut ke Candi Gentong. Membayangkan bentuk gentong, kayaknya ini candi bentuknya gede banget ato apalah gitu. Tapi pas tiba di lokasi malah bengong, karena tidak seperti yang dibayangkan.

Candi Gentong kabarnya banguna yang pada saat ditemukan memang sudah hancur / rontok / remuk. Yang ada hanya bongkahan batu bata berserakan. Tak heran bila pengunjung disini boleh dibilang gak ada, berbeda dengan candi-candi lain. Namun begitu, tetap kita abadikan.

Di halaman luas, terpajang logo Surya Majapahit dari bunga-bunga yang segar dan tertata apik. Ya disinilah salah satu objek dokumentasi Candi Gentong, letaknya di desa Jambumente, kecamatan Trowulan, kabupaten Mojokerto. Jaraknya sekitar 360 meter dari arah Candi Brahu.

Dalam tulisan Verbeek tahun 1889, Candi Gentong masih berwujud tapi saat Knebel menulis di tahun 1907, Candi Gentong sudah tinggal berupa gundukan batu bata. Walau sudah dianggarkan, namun upaya melestarikan Candi Gentong sepertinya menemui jalan buntu.

Candi Gentong ada 2 (dua) buah. Yang pertama, nyaris tak berbentu tetapi Candi Gentong II masih ada sedikit bekas "bau" candi. Candi Gentong II memiliki denah bujur sangkar, ukuran 7,10 meter x 7,10 meter dan dikelilingi bangunan lain, sekitar 7 buah dan mengarah ke 7 penjuru mata angin, kecuali arah mata angin utara.

Keseluruhan ukuran Candi Gentong II adalah 18,5 meter x 18,5 meter. Berdasarkan konsep tata ruang dan didukung temuan artefak lainnya, bangunan ini mirip mandala stupa, yaitu pembagian ruang yang terdiri dari pusat, dikelilingi oleh ruangan-ruangan lain yang berukuran lebih kecil.

Sayang sekali ya, warisan budaya yang pernah menjadi kebanggaan hingga kini belum tertangani dengan baik. Semoga kedepannya jadi lebih baik.

Sumber cerita, dicuplik dari buku "Mengenal Kepurbakalaan Majapahit Di Daerah Trowulan", karya Drs. I Made Kusumajaya M.Si dkk. Terima kasih.


Trowulan, 01.02.15.

Jumat, 06 Februari 2015

06.02.15 : Trowulan - Candi Brahu

TRoWuLaN: Perjalanan berikutnya, menuju Candi Brahu. Lumayan perut udah terisi lagi, jadi semangat napak tilas kembali tumbuh he he he. Ikuti cuplikan sejarahnya ya.

Candi Brahu terletak di desa Bejijong, kecamatan Trowulan, kabupaten Mojokerto. Seperti bangunan candi lainnya di Trowulan, struktur bangunan candi Brahu pun memiliki kesamaan, yakni sama-sama dibuat dari batu bata, yang direkatkan / ditempelkan satu sama lain dengan sistem gosok.

Ukuran bangunan Candi Brahu yaitu tinggi 25,7 meter dan lebar 20,70 meter. Struktur bangunan candi terdiri dari kaki, tubuh dan atap. Bagian tubuh Candi Brahu sebagian merupakan susunan bata baru yang dipasang pada masa pemerintahan Belanda dan ada juga yang menyebutkan, candi ini pernah ditabrak pesawat sehingga ada bagian candi yang terkesan ditambal.

Sayangnya, kita tidak diperkenankan naik dan melihat lebih dekat ato naik ke atas candi karena tertulis larangan secara jelas. Denah Candi Brahu berukuran 10 x 10,5 meter dan tinggi 9,6 meter. Didalamnya terdapat bilik 4 x 4 meter namun kondisi lantainya telah rusak. Sesuai analisis, Candi Brahu ditaksir dari masa antara tahun 1410 hingga 1646.

Atap candi Brahu tingginya kurang lebih 6 meter dan di salah satu sudutnya ada bentuk mirip stupa (bersifat Buddhis). Umur Candi Brahu diperkirakan lebih tua dibandingkan umur candi yang ada di Trowulan. Dasar dugaan ini adalah Prasasti Alasantan, yang ditemukan tidak jauh dari Candi Brahu. Isinya menyatakan ada bangunan suci yaitu waharu ato warahu, nah dari sinilah Candi Brahu dianggap sebagai salah satu bangunan suci.

Kami sempat berfoto dari beberapa sudut. Ikuti liputannya berikut ini.

Sumber cerita, dicuplik dari buku "Mengenal Kepurbakalaan Majapahit Di Daerah Trowulan", karya Drs. I Made Kusumajaya M.Si dkk. Terima kasih.

Trowulan, 01.02.15.

Kamis, 05 Februari 2015

05.02.15 : Trowulan - Kolam Segaran


Usai berkeliling melihat petilasan Eyang Patih Gajah Mada, Candi Tikus dan Gapura Bajangratu, KALOGers berniat istirahat makan siang dan shalat dulu. Waktu menunjukkan jam 12.30 wah ... sudah waktunya buat makan siang nih he he he.

Makan siang mampir ke warung Cak Mat yang menyediakan botok dan wader (ya khas daerah Trowulan situ katanya). Kita nikmati saja dambil ngobrol ngalor-ngidul. Minum cukup teh hangat karena yang lainnya minuman kalengan dan bersoda biasa.

Di depan mata, terdapat salah satu peninggalan Majapahit, yakni Kolam Segaran. Kolam ini merupakan salah satu kolam / waduk dari peninggalan Majapahit yang masih bisa disaksikan masyarakat. Orang yang pertama menemukan kolam ini Ir. Henry Maclain Pont tahun 1926.

Kolam berbentuk empat persegi panjang ini memiliki ukuran panjang 375 meter dan lebar 125 meter. Dinding kolamnya memiliki tinggi 3,16 meter sementara lebarnya 1,6 meter. Kolam ini terletak di desa Trowulan, kecamatan Trowulan, kabupaten Mojokerto.


Menurut cerita penduduk setempat, pada masa kejayaan Majapahit, Kolam Segaran digunakan sebagai tempat rekreasi dan menjamu tamu dari luar negeri. Bila perjamuan usai, semua peralatan perjamuan seperti piring, mangkuk dan sendok yang terbuat dari emas, dibuang di kolam untuk menunjukkan betapa kayanya Kerajaan Majapahit.

Kolam Segaran ditafsirkan dengan berbagai hal. Ada yang menyebutkan sekedar waduk (tempat penampungan air), saluran air masuk dan keluar area kerajaan, hingga kegunaannya sebagai wilayah penyejuk (semacam taman kota sekarang ini) Kerajaan Majapahit.

Para ahli memperkirakan Kolam Segaran adalah "telaga" yang disebutkan dalam buku "Negarakertagama" Pupuh VII:5.3. Saat ini banyak digunakan sebagai kolam pemancingan bagi para mancing-mania. Ooops.

Sayangnya, KALOGers gak sempat berpose banyak disini karena dikejar waktu untuk menuntaskan melihat candi-candi berikutnya. Enjoooy.


Trowulan, 01.02.15 / Kredit Foto : Wilwatikta Museum, Bangbo, RAM.

Minggu, 01 Februari 2015

01.02.15 : Trowulan - Petilasan Eyang Patih Gajah Mada


MoJoKeRTo: Program penjelajahan kali ini tidak sekedar di sekitar rel dan stasiun kereta api (KA) he he he. Kali ini menyusur wilayah kerajaan ato peninggalan kerajaan Majapahit di sekitar area Trowulan, Mojokerto dan sekitarnya.

Berangkat dari Surabaya jam 07.30 dan tiba sekitar 1,5 jam di lokasi. Tujuan pertama yang dipandu oleh Harry rekan sekerja, Petilasan Eyang Patih Gajah Mada, yang lokasinya agak naik bukit tetapi memang pas searah, dari lokasi penyusuran selanjutnya.


Untuk melengkapi catatan perjalanan napak tilas ini, kebetulan kami menemukan artikel ini. Semoga bermanfaat.

--- quote ---

(artikel) Mengungkap Asal Usul Patih Gajah Mada Yang Misterius

Candi Mendut 2. ©2012 Merdeka.com/parwito

Merdeka.com - Keberadaan dan asal-usul pahlawan yang kondang dengan Sumpah Palapa ini masih menjadi misteri bagi semua orang. Bahkan para ahli sejarah pun belum menemukan kata sepakat dimana dia dilahirkan. Dimana dia dibesarkan sampai bagaimana sosok Patih Gajah Mada menghabiskan masa tuanya sampai saat ini menjadi tanda tanya besar. Serta menjadi teka-teki sejarah yang belum terpecahkan.

Ada bahasan menarik yang disampaikan oleh sastrawan Anuf Chafiddi atau sering dipanggil Viddy AD Daery dalam makalahnya dalam Seminar Sesi II tentang Kontroversi Gajah Mada dalam Perspektif Fiksi dan Sejarah di Borobudur Writers & Cultural Festival 2012 di Manohara Hotel, Kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang, Jateng Senin (29/10).

Secara tegas dirinya memberikan judul dalam makalahnya; "Foklor Mengenai Gajah Mada Lahir di Modo, Lamongan" yang artinya menyatakan dirinya yakin bahwa Gajah Mada dilahirkan, besar dan mati di Lamongan, Jatim.

"Gajah Mada pahlawan maha besar nusantara itu lahir di wilayah Lamongan, Jawa Timur? Untuk menjawab pertanyaan itu akan menimbulkan berbagai macam jawaban kalau ditanyakan ke banyak orang. Namun kalau ditanyakan kepada saya. Jawaban saya adalah betul," ungkap Viddy.

Ada lima alasan yang menjadikan Viddy yakin bahwa Gajah Mada berasal dari Lamongan, Jatim. Alasan itu di antaranya, di daerah Desa Modo dan sekitarnya termasuk Desa Pamotan, Desa Ngimbang, Desa Bluluk, Desa Sukorame dan sekitarnya tersebar foklor atau cerita rakyat. Dongeng dari mulut ke mulut mengisahkan bahwa Gajah Mada adalah kelahiran wilayah Desa Modo.

Kelima desa itu merupakan daerah ibu kota sejak didirikan jaman Kerajaan Kahuripan Erlangga. Bahkan anak cucu raja juga mendirikan ibu kota di situ. Alasanya strategis alamnya bergunung-gunung, bagus untuk pertahanan dan dekat dengan Kali Lamong cabang Kali Brantas. Selain itu ada jalan raya Kahuripan-Tuban yang dibatasi Sungai Bengawan Solo di Pelabuhan Bubat (kini bernama Kota Babat). Ibu kota ini baru digeser oleh cicit Airlangga ke arah Kertosono-Nganjuk.

Kemudian baru di zaman Jayabaya digeser lagi ke Mamenang, Kediri. Selanjutnya oleh Ken Arok, digeser masuk lagi ke Singosari. Baru kemudian oleh R Wijaya dikembalikan ke arah muara yaitu ke Tarik. Namun, anaknya yang akan dijadikan penggantinya yakni Tribuana Tunggadewi diratukan di daerah Lamongan-Pamotan-Bluluk lagi yaitu di Kahuripan alias Rani Kahuripan, Lamongan.

"Ketika Gajah Mada menyelamatkan Raja Jayanegara dari amukan pemberontak Ra Kuti, dibawanya Jayanegara ke arah Lamongan yaitu di Badender (bisa Badender Bojonegoro, bisa Badender kabuh, Jombang, keduanya memiliki rute ke arah Lamongan (Pamotan-Modo-Bluluk dan sekitarnya). Itu sesuai teori masa anak-anak dimana kalau anak kecil atau remaja berkelahi di luar desa pasti jika kalah lari menyelamatkan diri masuk ke desa minta dukungan. Di desanya banyak teman, kerabat maupun guru silatnya. Saya kira Gajah Mada juga menerapkan taktik itu,"ungkapnya.

Sebuah situs kuburan Ibunda Gajah Mada, yaitu Nyai Andongsari juga menjadikan Viddy yakin bahwa patih kerajaan jaman Majapahit itu berasal dari Lamongan. Kemudian juga ada situs kuburan yang sampai saat ini menjadi perdebatan dan kontroversial yang diyakini warga sekitar merupakan kuburan patih Gajah Mada. Namun, kuburan itu dalam posisi dan berkarakter kuburan islam.

"Kuburannya menghadap ke arah persis sebagaimana kuburan orang Islam. Kalau misalnya hal ini benar maka wajar saja masa tua Gajah Mada tidak ditulis di babad-babad atau kitab kuno. Sengaja disisihkan atau dihapus dari sejarah karena Gajah Mada mungkin dianggap 'murtad' atau semacam itu," jelasnya.

Arkeolog sekaligus sejarawan Fakultas Sejarah Universitas Indonesia (UI) Agus Aris Munandar menyatakan secara arkeologis belum ditemukan data tentang asal muasal dan keberadaan pasti Gajah Mada. Bahkan beberapa temuan prasasti-prasasti yang menyinggung tentang cerita Gajah Mada belum dan tidak bisa digunakan untuk penelitian dan memastikan benang merah sejarah cikal bakal Gajah Mada itu sendiri.

"Beberapa data soal keberadaan Gajah Mada yang belum digunakan. Data Gajah Mada secara arkeologis tidak ada. Yang ada nanti jika digunakan menjadi tafsir di atas tafsir. Prasasti yang terabaikan itu diantaranya: Prasasti Gajah Mada di situs Candi Singosari (Tahun 1351 M), Prasasti Relief Mahameru (Pawitra) yang menjelaskan Mahameru sebagai titik asis mundi.

Kemudian penemuan Candi Tikus di situs Trowulan yang gayanya mirip Candi Singosari. Mungkinkah Candi Tikus diperintah Gajah Mada untuk dibangun.

"Candi Kepung 7 meter di muka tanah sangat dekat dengan Candi Tikus di Kepung Kediri. Ada lagi Prasasti Hemadwalandit, Prasasti Bendodari (Tahun 1360 M),"tuturnya.

Agus Aris menyatakan karena tidak ada bukti arkeologis yang ditemukan terkait keberadaan dan cikal bakal Gajah Mada dan saking menariknya tokoh yang satu ini, banyak sekali daerah yang sampai mengklaim secara lisan bahwa di daerah mereka merupakan asal muasal maupun tempat meninggalnya Gajah Mada.

"Ada yang mengakui bahwa Gajah Mada dari Buton, Gajah Mada dari Wange-wange Bali. Ada yang bahkan mengatakan bahwa Gajah Mada adalah keturunan pasukan Tor-Tor,"ungkap Agus Aris Munandar.

Sampai saat ini, penelitian Arkeologi belum berhasil menemukan jati diri, sosok Gajah Mada yang seutuhnya. Sebab dari arkeologi sejarah, mempunyai peringkat validitas data.

"Data primer, data sekunder dan data tertier. Berita- berita dari mulut ke mulut (folklor) itu, menurut Aris itu merupakan data tersier dan bersifat negatif. Data primer prasasti itu mutlak dan dibuat pada jamanya. Prasasti dengan angka tahun dihargai dengan angka tahun. Data pendukung: zaman, bergeser. Negarakertagama lebih valid dari Pararathon. Ada peringkat yang tidak bisa kami tabrak begitu saja. Silahkan multi tafsir nanti akan diperbaiki," kata Agus.


--- unquote ---
                                                           Trowulan, 01.02.15