Minggu, 26 April 2015

26.04.15 : Jalan-Jalan Bareng Isteri

Pulang ke Kota Kembang, maunya berleha-leha setelah seminggu nguplek (bergelut ngurusi kerjaan). Tapi apa mo dikata, ada kerjaan menunggu. Beres-beres rumah, silaturahim ke sodara ato memenuhi undangan nikahan seseorang. Bisa siapa saja.

 Sebagai makhluk sosial, jangan terlalu dirisaukan. Ikuti saja, Insya Allah barokah. Menjalin silatutrahim utamanya, gak bakal rugi deh. Ada aja manfaat yang kita dapat. Pertemanan, kekeluargaan ato gak jarang ada peluang yang bisa dimanfaatkan.

Sabtu 25/04. Isteri meminta ditemani ke sekolah tempat dimana dia ditempa menjadi salah satu murid di SMA 4 Bandung. Yang membuat dia bersemangat karena, murid-murid SMA 4 Bandung, belum lama ini menjadi juara OIC 2015 di RTV, setelah mengalahkan sekolah-sekolah favorit. Ya ada kebanggaan tersendiri ‘lah.

Dalam perjalanan menuju sekolah, diniatkan antar Aina dulu ke sekolah sekitar jam 07.00 pagi. Karena hari masih pagi, disempatkan diri mampir ke Jl Otista depan Pasar Baru, yang beberapa hari sebelumnya (acara KAA ke-60) dihias payung-payung berwarna-warni.

Yang bikin unik (maklum baru pertama kali ngeliat he he he, udik ya ?) payung-payungnya digantung disepanjang jalan. Sodara bilang, mirip di Portugal tuh … (foto kiri atas). Ya kalo blon bisa kesana, apa salahnya ke Otista dulu aja.


Selesai berfoto-foto, lanjut ke SMA 4 dan setelah selesai, jemput Aina lagi teruuuus antar ke bimbingan belajar. Usai mengantar jemput, lalu kembali ke rumah untuk beristirahat sejenak. Posisi waktu udah jam 14.00-an tuh.

Ba’da shalat Magrib, lanjut lagi ke acara nikahan Ucup – Regina di Kologdam sementara isteri ada acara reuni kampus di Tizi Dago. Pulangnya jam 21.30-an bareng Aina, jemput isteri di Tizi lantas pulang kerumah.

Gak gempor, malah senang dan menikmati. Terima kasih Yaa Allah masih diberi kesempatan berkumpul bersama keluarga. Alhamdulillah.

Bandung, 25.04.15.

Jumat, 24 April 2015

24.04.15 : Nongkrong Bareng Di Taman Surapati

Yang ini termasuk acara dadakan nih. Perkara gambarnya bagus ato ngga, gak masalah. Tujuannya sih cari makan dan mencari udara segar. Maksudnya, suasana makan di taman gitu deh dan area yang dipilih adalah Taman Surapati, di jantung ibukota negara.

Makan malem nasi goreng, itu sudah biasa. Kalo yang nemenin salah satu direksi, pasti termasuk peristiwa langka dunk. Coba aja disengajain, susah deh jadinya. Bukan apa-apa,  Selain karena kesibukannya, mana bisa ngeluangin waktu buat santai bareng staf sejenak?. Tooop !

Terima kasih untuk makan malamnya pak GB. Yang penting acara nongkrong barengnya itu loh  yang bikin makannya dan nongkrongnya jadi spesial he he he. Gaul bingitz ya. Kompak pula. 


                      Jakarta, suatu malam di bulan Apri 2015. Foto : Hendra Utama.

Kamis, 23 April 2015

23.04.15 : Survei Ke Tanjung Priok & Opini Ringan

Kamis, 23/04, dapat perintah untuk melaksanakan survei ke pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Gak pernah nawar rasanya dan siap dilaksanakan koq. Hasilnya sejauh ini oke. Hanya saja perlu edukasi dan sosialisasi akan pentingnya jalur rel kereta api (KA) di industri logistik Tanah Air.


Hanya saja, keterlibatan asosiasi operator KA belum semaju industri trucking ato sejenisnya. Tetapi upaya untuk menjalin komunikasi informal maupun formal tetap dijajaki agar timbul saling pengertian dan jika memungkinkan bekerjasama.


Bukannya malah saling memusuhi karena di bisnis apapun, sikap bermusuhan hanya akan menjatuhkan kredibilitas dan performa. Perusahaan lain di luar negeri saling bersinergi, nah kenapa kita gak belajar hal positif dari mereka ?


Maklumlah, pengusaha di negeri sendiri kadang masih terpaku dengan ke-AKU-an sehingga bila diajak bekerjasama, agak gengsi dan risih (karena belum terbiasa). Mohon maaf bagi pelaku yang kebetulan sedang membaca ungkapan ini.


Secara jujur, aliansi strategis yang ditempuh perusahaan global seperti : 2M, G6, CKYHE dan O3 patut menjadi contoh. Juga di industri maskapai penerbangan dengan adanya SkyTeam dan lain-lain. Bagus khan ?

Untungnya, di industry pelayaran nasional, langkah tersebut diatas sudah dijalani oleh PT Meratus Line. Sebelumnya sempat berkolaborasi dengan PT Temas Line dan kini menjalin hubungan bisnis dengan PT SPIL / join-slot di rute Jakarta – Belawan, misalnya. Bagus tuh !
Tidak bermaksud menggurui. Hanya berbagi pengalaman saja agar industri transportasi, apapun modanya, dapat berjalan beriringan dan semakin maju. Memajukan nama bangsa dan negara bukan jadi budak di negeri sendiri. Aamiin.


Maju terus, pantang mundur !


Jakarta, 23.04.15.

Rabu, 22 April 2015

22.04.15 : Ikut Ber-KAA Roa

Gak ada kata gak seirama. Tua muda kalo dah urusan nasionalisme harusnya ya begini ini. Gak pandang usia, gak pandang suku dan gak pandang bulu. Semua ikut mendukung kelancaran pelaksanaan peringatan 60 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung.

Gak salah juga kalo ibu mertua, isteri dan adik ipar ikut serta memeriahkan hingar-bingar perhelatan akbar tersebut dan menikmati suasana jalanan saat menjelang acara puncak besok hari. Lokasi pengambilan gambar, sekitaran Pasar Baru, Braga dan dekat Gedung KAA gitu deh. Foto oleh Yoen.

Sssst, moga-moga begini terus ya. Jalanan bersih, rapih, banyak hiasan. Ngeliatnya sih kayak di luar negeri hi hi hi. Kang Ridwan Kamil sareng kang Aher, ayooo pertahankan keindahan Bandung gak Cuma karena ada KAA.

Oleh-oleh hasil bidikan sang isteri, silahkan dilihat di foto-foto berikut ini. Berhubung foto diambil dengan kamera handphone, ya harap maklum, hasilnya gak seindah aslinya tetapi tetap kelak bias dikenang seperti halnya acara peringatan KAA ini.

Enjoy.


                                                         Bandung, 22.04.15.

Selasa, 21 April 2015

21.04.15 : Resto "Cahaya Kota"


Ini restoran termasuk salah satu tempat makan yang paling bertahan ditengah gempuran merek-merek asing alias biz franchise yang sedang melanda negeri ini. Bukan promosi ato sok ngerekomendasiin, cuma ya seneng aja pernah icip-icip disini.

Gitu aja koq jadi masalah gede, gak perlu ‘lah. Ini pujian buat pemilik resto. Lha wong makanannya emang enak dan menyajikan makanan Tionghoa tapi (kabarnya nih) dijamin halal. Bismillah aja deh. Wong niatnya juga mau makan ….

Kebetulan, ini hari ketemu temen lama yang juga merupakan mitra kerja kita, Andi Atman  + Patrick Tong. Selesai urusan bisnis ya gak salah dunk makan bareng, itung-itung reuni lah.


E n j o y  t h e  f o o d,  s k a l i a n  r e u n i a n.

                                           J a k a r t a, 21 . 04 . 15.

Rabu, 15 April 2015

15.04.15 : Makan Malem Bareng Mr Choi + Mas Sukis

Hampir setiap malam, rasanya frekuensi makan malam menjelang kembali bertugas di Jakarta, meningkat drastic. Gak usah pake acara pindah tugas aja kluyuran berwisata kuliner, apalagi ada momen pisah-pisah gitu hi hi hi.

Malam itu, giliran mr Choi dan mas Sukis yang menemani makan malem di Pawon van Java, deket kantor situ. Makanannya lumayan. Murah meriah tetapi suasana rumahnya masih brasa banget. Pokoknya cukup representative.

Terima kasih ya sudah sering direpotkan, semoga kalo datang lagi ke Surabaya gak kapok-kapok nemenin he he he. Enjoy.


                                          Surabaya, 14.04.15.

Senin, 13 April 2015

13.04.15 : Mulai Hari Baru (Lagi)

Hari pertama masuk kantor pusat lagi, serasa jadi orang baru masuk kerja hi nhi hi. Datang kepagian, sarapan dah beres duluan dan ngabsenin temen-temen yang datang agak siangan (duuuh somse yang datang pagi ni yeee).


                                       Enjoy your days  …


                                                                 Jakarta, 13.04.15.

Minggu, 12 April 2015

12.04.15 : Sweet Moments

Sejumlah foto perpisahan di JO BUMIKALOG dan KALOG. Berat untuk mengatakan “berpisah” tapi lebih tepatnya pindah tugas. Semoga kapan-kapan kita bias bertemu lagi> Terima kasih atas dukungannya selama ini, juga kulinernya ya Syat, Yud.


Surabaya, 12.04.15 (masa transisi koq nyempet-nyempetnya ya ? Hadeuuuuhh RAM).

Sabtu, 11 April 2015

11.04.15 : Ehh Ternyata Lanjut ke "De Javasche Bank"

Semalam, sehabis pulang makan malem padahal udah ngerasa puas foto-foto didepan gedung djadoel “De Javasche Bank” … ehh ternyata ini hari sepulang pesan tiket dari Stasiun Pasar Turi (SBI), koq terseret arus masuk lagi.

Entah pesona ato ada angin apa yang bikin hati kepincut sama gedung-gedung lawas milik penjajah yang kabarnya telah menjajah negeri ini selama hampir 3,5 abad alias 350 tahun. Lumayan khan.

Karena waktu yang mepet dan gak sengaja mampir, otomatis gak siap dengan perlengkapan fotografi sekalipun. Cuma bermodalkan “penasaran” aja, lantas datang. Salahkah ? Gak khan.



Dokumentasi bukti udah mampir, terlampir. Cuma untuk artikelnya, meminjam tulisan Amidah Budi berikut ini (mohon ijin untuk share ya). Foto lawas dari blog AbuAlbanie dan Wikipedia.

--- quote ---

(artikel) Gedung De Javasche Bank Surabaya - Saksi Sejarah Panjang Perbankan Indonesia

15 Feb 2015    View : 601    By : Amidah Budi

Gedung De Javasche Bank ini sudah lama menjadi incaran saya. Alasannya adalah karena arsitektur kuno ala Belanda yang berdiri kokoh dan juga sejarahnya yang panjang. Beruntung sekali beberapa waktu yang lalu seorang teman mengajak untuk mengunjungi pemeran lukisan di House of Sampoerna. Kesempatan itu saya gunakan untuk mengajaknya mampir ke museum ini.

Lokasi Gedung De Javasche Bank

De Javasche Bank beralamat di Jalan Garuda No. 1 Surabaya. Lokasinya berdekatan dengan Jembatan Merah dan Museum House of Sampoerna. Untuk mencapai museum ini, Artebianz bisa melalui Jalan Raya Rajawali yang diberlakukan jalur satu arah dari arah barat ke arah timur menuju Jalan Kembang Jepun. Saat menyusuri Jalan Raya Rajawali sebaiknya Artebianz merapat ke sebelah kiri sambil terus mengamati gang-gang di sebelah kiri. 

Ketika Artebianz menemukan gang bertuliskan Jalan Kasuari silakan belok kiri. Lokasi Gedung De Javasche Bank berada di sebelah kanan Jalan Kasuari yang cukup sempit dan agak becek. Berikut saya sertakan potret lokasi gedung De Javasche Bank diambil dari satelit google earth.



potret lokasi gedung de javasche bank dari google earth (potret lokasi gedung de javasche bank dari google earth)

Sejarah Panjang Perbankan Indonesia

De Javasche Bank didirikan di Batavia pada tanggal 24 Januari 1828 oleh Pemerintah Hindia Belanda. Sedangkan kantor cabang Surabaya dibuka pada tanggal 14 September 1829 dengan menempati gedung De Javasche Bank ini.

Pada tahun 1904, gedung itu kemudian dirobohkan dan dibangun ulang dengan luas sekitar 1.000 meter persegi dan bergaya neo renaissance empire dengan atap Mansart dan pilar ornamen Hindu-Jawa yang menghiasi eksterior gedung sampai saat ini.

De Javasche Bank cabang Surabaya ini pernah dikuasai oleh Pemerintah Kolonial Jepang pada tahun 1942 kemudian kembali beroperasi pada 6 April 1946, setelah tentara Sekutu berkuasa kembali.

Pada 1 Juli 1953, De Javasche Bank berubah menjadi Bank Indonesia dan secara otomatis gedung De Javasche Bank di Jalan Garuda ini beralih fungsi menjadi kantor Bank Indonesia. Tetapi pada tahun 1973, kantor tersebut tidak digunakan lagi karena kapasitas gedung tidak cukup memadai untuk melakukan kegiatan operasional Bank Indonesia. Sehingga sebuah kantor baru didirikan di Jalan Pahlawan No. 105 dan hingga saat ini masih digunakan sebagai Kantor Bank Indonesia Surabaya.

Singkat cerita gedung ini telah berusia sekitar 186 tahun dan masih berdiri kokoh. Gedung ini juga menjadi saksi bisu lahirnya perbankan di Indonesia serta perkembangan perbankan sampai saat ini.

Gedung De Javasche Bank selesai dikonservasi pada awal tahun 2012 lalu dan menjadi salah satu bangunan cagar budaya milik Bank Indonesia (BI). Saat ini gedung De Javasche Bank berfungsi sebagai museum dan ruang pameran. Masyarakat juga dapat meminjam gedung tersebut untuk berbagai kegiatan seni, budaya, dan pendidikan.

Saya pribadi merasa senang atas keputusan menjadikan gedung De Javasche Bank sebagai museum dan tempat kegiatan seni dan budaya. Dengan fungsinya sekarang, gedung ini bisa terus menjadi ikon sejarah perkembangan perbankan Indonesia. Para pengunjung yang awalnya tidak mengetahui sejarah perbankan di Indonesia jadi tahu saat berkunjung ke museum ini, contohnya saya.

Selain Gedung De Javasche Bank, Surabaya juga memiliki beberapa bangunan cagar budaya lainnya yaitu Gedung Grahadi, Balai Pemuda, Balai Kota, PTPN, RS. Darmo, Cak Durasim, Mpu Tantular (sekarang Perpustakaan Bank Indonesia), Kantor Wismilak, House of Sampoerna, rumah TJokroaminoto jalan Paneleh, dan rumah WR Supratman Jalan Mangga.

Sebagai gedung cagar budaya, gedung De Javasche Bank pernah menjadi nominasi Surabaya Tourism Award 2013 dari Pemerintah Kota Surabaya. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap pariwisata Surabaya.

Museum De Javasche Bank

Gedung De Javasche Bank memiliki tiga lantai. Lantai yang paling bawah adalah lantai bawah tanah (basement) difungsikan sebagai museum. Museum ini buka setiap hari kecuali hari Senin, mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Pengunjung museum tidak dipungut biaya kunjungan alias gratis!

Saat itu Tim Artebia tiba sekitar pukul 11 siang. Museum tampak sepi, tidak ada seorang pengunjung pun selain kami. Seorang mbak-mbak resepsionis cantik menyambut kami kemudian meminta kami mengisi buku tamu. Dari daftar buku tamu tersebut saya mengetahui ternyata hari itu sudah ada pengunjung selain kami. Tampaknya mereka adalah serombongan warga negara Korea yang terdiri dari 6 sampai 7 orang yang berasal dari kota Busan. Namun sepertinya rombongan tersebut sudah meninggalkan museum ini.

Wah, ternyata museum ini sudah cukup dikenal oleh warga negara asing. Lalu bagaimana dengan masyarakat lokal sendiri?

suasana ruang bawah tanah gedung de javasche bank yang berfungsi sebagai museum(suasana ruang bawah tanah gedung De Javasche Bank yang berfungsi sebagai museum)

Museum ini ternyata tidak seluas yang saya kira, terdiri dari 3 ruangan yang berpintu dan dua ruangan terbuka ditambah satu meja resepsionis. Pembagian ruangan berdasarkan koleksi beda di dalam ruangan tersebut. Tiga ruangan berpintu terdiri dari Ruang Koleksi Mata Uang, Ruang Koleksi Hasil Konservasi dan Ruang Koleksi Pusaka Budaya. Saya mencoba menggambarkan ruangan-ruangan tersebut ke dalam denah berikut:


denah museum De Javasche Bank(denah museum De Javasche Bank)

Ruang Koleksi Uang

Pertama kami memasuki Ruang Koleksi Uang. Ruangan ini memiliki pintu baja yang sangat tebal kira-kira 40 cm dan bercat kuning. Saya memperkirakan dulunya ruangan ini berfungsi sebagai brangkas uang. Sesungguhnya dari awal saya kurang nyaman berada di museum ini. Ruangan yang lembap ditambah pencahayaan yang kurang agak membuat saya merinding dan pengen cepat-cepat keluar ruangan namun saya masih penasaran ingin melihat seluruh isi museum ini.

Di sekeliling ruangan terdapat etalase-etalase mini seperti di konter-konter ponsel. Di dalam etalase terdapat koleksi uang-uang kuno. Dalam sejarah perekonomian Indonesia dikenal dengan ORI (Oeang Republik Indonesia). Di antara koleksi juga terdapat uang logam zaman dulu yang masih bolong tengahnya. Beberapa uang kuno tersebut memiliki desain cantik, tapi beberapa lainnya memiliki desain yang mirip uang mainan monopoli.

Ruang Koleksi Hasil Konservasi

Ruangan kedua yang kami masuki adalah Ruang Koleksi Hasil Konservasi. Di ruangan ini dipamerkan beberapa bahan konstruksi gedung De Javasche Bank lama sebelum dikonservasi tahun 2012 lalu. Terdapat beberapa genteng dan tegel lantai. Selain koleksi bahan kontruksi lama juga dipamerkan replikasi emas batangan.

Ruangan ketiga adalah ruangan yang paling seram yaitu Ruang Koleksi Pusaka Budaya. Saya tidak akan berani masuk jika seorang diri, untungnya saya ke sini bersama teman. Di ruangan ini dipamerkan mesin-mesin pencetak dan penghancur uang pada zaman dulu.

Setelah keluar masuk tiga ruangan utama, kami berjalan santai di ruangan terbuka dekat resepsionis. Ada hal yang menarik perhatian saya di sini yaitu foto-foto Surabaya masa lalu. Ada foto alun-alun Surabaya, foto Jalan Pahlawan, serta foto-foto rumah dinas pegawai de Javasche Bank di sekitar Jalan Raya Darmo. Jadi inilah alasan mengapa banyak sekali rumah-rumah berarsitektur kuno di sekitar Jalan Darmo. Saat ini rumah-rumah tersebut banyak digunakan sebagai gerai-gerai komersial. Sekali lagi saya belajar tentang sejarah kota Surabaya.

Kami keluar museum setelah puas berkeliling sekitar satu jam. Sebenarnya saya masih ingin melihat ruang di atas museum yang berfungsi sebagai ruang pameran. Saya penasaran dengan arsitektur di dalamnya. Namun saat itu saya tidak menemukan seorang pun untuk meminta izin memasuki ruang atas. Kami juga tidak tahu jalan menuju ruang atas. Ya sudah, akhirnya kami pulang deh.

Akhir Kata Tentang Museum De Javasche Bank

Menurut saya pribadi Museum De Javsche Bank masih punya banyak peluang untuk lebih dikembangkan lagi, salah satunya adalah dengan menambah koleksi benda-benda kuno perbankan, menciptakan suasana nyaman dalam ruangan, memperindah ruangan dengan lukisan atau pernik interior lain agar ruangan tidak terkesan kaku dan suram. Namun di luar semua hal yang saya keluhkan, saya merekomendasikan Gedung dan Museum De Javasche Bank untuk dikunjungi. Alasan mendasarnya adalah agar kita penerus bangsa lebih mengenal sejarah dan lebih bersemangat untuk membangun bangsa Indonesia tercinta.

Setelah mengunjungi museumnya, saya masih antusias untuk mengunjungi gedung ini lagi saat ada pameran seni atau budaya. Kabarnya gedung ini sering digunakan untuk pameran lukisan.


Sumber : Artebia.com.