Kamis, 14 Mei 2015

14.05.15 : Kamis Libur, Kerjaan Jalan Terus

Harusnya, Kamis 14/05 ini sudah istirahat di Jakarta untuk memulihkan stamina, namun apa daya gak dapet tiket buat pulang. Ya nginep nambah semalam di Kota Pahlawan deh.

Hotel pilihan Ibis Rajawali karena lokasinya strategis dan pemandangannya oke juga, selain gedungnya model djadoel. Dibaca dari tembok depan, gedung ini dulunya Gedung Pantja Niaga. Berhubung termasuk cagar budaya, jadi ndak boleh dibongkar. Dirapihkan boleh.

Walaupun libur, toh gak pernah bisa tuh leha-leha di kamar hotel, apalagi sebelahnya Buset ha ha ha. Usai makan siang, kita jalan-jalan ke Stasiun Kalimas dan seperti biasa, melakukan check and recheck ke lapangan, terutama CY dan gudang Kalimas.

Liputannya sebagai berikut, terlampir.


                                                        Surabaya, 14.05.15.

Rabu, 13 Mei 2015

13.05.15 : It’s Dawet Time

Berkeliling Jawa Timur, kurang klop rasanya klo gak ketemu dawet ato kuliner khas setempat. Ikan bakar, santapan malam ala seafood dan lain sebagainya, sok pasti wajib dunk dicoba. Yang gak tahan sate bekicot hiiii .... sereeem.

Hari ini dalam perjalanan dari Stasiun Malang Kotalama menuju Stasiun Ngadiluwih, kita melewati bendungan Karangkates dan mampir di pinggiran jalan sekedar menikmati pemandangan alam dan nyari yang segar-segar.

Alhamdulillah, ketemu es dawet. Mana cuaca sedang panas dan kerongkongan cuma diisi air mineral pula, gak ada salahnya dijejali es dawet 2 (dua) mangkuk dan lumayan ngeganjel bingitz. Alhasi,l gak sempet makan siang karena mepetmya waktu.

Sempat ngobrol dan diskusi dengan KS Ngadiluwih bahwa secara umum track oke, fasilitas gudang minimalis tapi bisa di-upgrade jika berminat. Jangan coba-coba menggeser Stasiun ya karena bangunan ini termasuk aset Heritage alias cagar budaya yang wajib dilestarikan. It's dawet time jadi ngobrol makanan aja dulu hi hi hi.

Dokumentasi perjalanan, monggo disimak bareng-bareng.


OTW Ngadiluwih (ditulis dalam perjalanan ke Surabaya), 13.05.15.

Senin, 11 Mei 2015

12.05.15 : Oleh-oleh Banyuwangi

Apaan sih ? Bukan makan Bro. Kita hobi mendokumentasikan setiap perjalanan, untuk kenang-kenangan semata. Kalo bisa dipake untuk keperluan lain, semisal bisnis ato presentasi karena kebanyakan gambar rel, ya monggo saja.

Ini adalah dokumentasi saat dalam perjalanan menuju Banyuwangi (BW), selama dan ketika cabut dari stasiun terujung di Jawa Timur, yang langsung berbatasan dengan Pulau Bali di seberang sana. Gak heran banyak bule-nya he he he.

Liputannya, simak foto-foto berikut ini. Yang terakhir adalah prospek muatan yang sedang dinego oleh PT KALOG, caranya dengan mensurvei dan memastikan kapasitas terpasang serta menghitung komponen biaya, supaya bisa segera deal.


Cheers. Oh iya, kita masuk ke Banyuwangi di hari ke-2 dalam jadual perjalanan dinas kali ini., tepatnya Selasa 12/05/15. Dua tempat yang berhasil dilihat fisiknya yaitu Stasiun Banyuwangi Baru (BWB) dan Stasiun Argopuro.

Banyuwangi, 12.05.15.

Sabtu, 09 Mei 2015

09.05.15 : Museum Sri Baduga Bandung

Liburan seharusnya diisi dengan kegiatan yang bermanfaat. Tapi ya tergantung diri masing-masing sih, ngga maksa. Buat para pekerja biasanya, hari libur dipake buat bayar hutang tidur alias ngorok seharian (ini kenyataan dan cerita kawan he he he).

Kebetulan, kalo libur sekarang punya kegiatan jalan-jalan ke museum ato tempat sejenis. Bosen khan jalan-jalan ke mall mulu. Salah satu yang dibidik yaitu Museum Sri Baduga yang merupakan sebuah museum yang terletak di kota Bandung, provinsi Jawa Barat, Indonesia.

Museum Negeri Sri Baduga yang terletak di ruas Jalan B.K.R. 185 Tegallega dan berhadapan dengan Monumen Bandung Lautan Api, dirintis sejak tahun 1974 dengan memanfaatkan lahan dan bangunan bekas kewedanaan Tegallega.

Bangunan Museum ini berbentuk bangunan suhunan panjang dan rumah panggung khas Jawa Barat yang dipadukan dengan gaya arsitektur modern; sedangkan bangunan aslinya tetap dipertahankan dan difungsikan sebagai ruang perkantoran.

Tahap pertama pembangunan diselesaikan pada tahun 1980, diresmikan pada tanggal 5 Juni oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Daoed Yoesoef dan diberi nama Museum Negeri Propinsi Jawa Barat.

Areal museum yang luasnya mencapai 8.415,5 m2 dibagi menjadi dua bagian; wilayah publik (public area), mencakup gedung pameran dan auditorium dan wilayah buka publik (non public area), mencakup ruang perkantoran Kepala Museum, Sub Bagian Tata Usaha, Kelompok Kerja Bimbingan dan Edukasi, Kelompok Kerja Konservasi dan Preparasi serta Kelompok Kerja Koleksi (termasuk di dalamnya Gedung Penyimpanan Koleksi).

Sepuluh tahun kemudian, nama museum dilengkapi dengan nama Sri Baduga diambil dari nama raja Sunda yang bertahta di Pakwan Pajajaran sekitar abad ke-16 Masehi. Nama ini tertuang dalam prasasti Batutulis (Bogor) secara lengkap tertulis SRI BADUGA MAHARAJA RATU HAJI I PAKWAN PAJAJARAN SRI RATU DEWATA.

Sebagai Museum umum yang memiliki koleksi dari jenis koleksi Geologika, Biologika, Etnografika, Arkeologika, Historika, Numismatika/Heraldika, Filologika, Keramik, Seni Rupa dan Teknologi ini, tercatat tidak kurang sebanyak 5.367 buah koleksi; terbanyak adalah koleksi rumpun Etnografika yang berhubungan dengan benda-benda budaya daerah.

Jumlah koleksi tersebut tidak terbatas pada bentuk realia (asli), tapi dilengkapi dengan koleksi replika, miniatur, foto, dan maket. Benda-benda koleksi tersebut selain dipamerkan dalam pameran tetap, juga didokumentasikan dengan sistem komputerisasi dan disimpan di gudang penyimpanan koleksi (bandungtourism.com).

Simak liputannya, selama jalan-jalan bareng keponakan dan keluarga (maaf, kurang suka difoto) jadi yang muncul ya foto-foto keponakan he he he.



                                    From Bandung With Love, 09.05.15.

Kamis, 07 Mei 2015

07.05.15 : Meeting, Skaligus Reuni

Kamis 07/05/15 siang, kami mengadakan pertemuan dengan mantan rekan-rekan sekantor di PT Meratus Line Jakarta untuk membahas kerjasama bisnis yang bisa digarap bersama. Namanya bisnis, perlu pendekatan dan kalkulasi bisnis yang pas.

Alih-alih sekalian reuni, pertemuan berjalan dengan baik. Setidaknya, ada beberapa poin yang menjadi “pekerjaan kantor” (bukan pekerjaan rumah loh ya) dan harus dibahas di level manajemen atas. Hasilnya ya bisa bagus, bisa juga belum bagus. Tunggu aja.

Terima kasih Capt. Wardi dan mas Rochim menyempatkan diri datang ke kantor dan berfoto bersama. Cheers !


Jakarta, 07.05.15.

Rabu, 06 Mei 2015

06.05.15 : Kawal D3 Di GDD

Selasa, 05/05 Dirpras (D3) PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengunjungi Stasiun Angkutan Barang Sungai Lagoa (SAO), Jakarta dan kembalinya mampir ke kantor pusat PT Kereta Api Logistik (KALOG).

Selama di Gondangdia, D3 berkeliling melihat-lihat kondisi kantor, area parkir, rencana area pengembangan kantor tahap III dan juga mengunjungi Stasiun Gondangdia, sebelum melanjutkan perjalanan ke Stasiun Cakung.

Terima kasih dan selamat melanjutkan perjalanan dinasnya pak.


Jakarta, 06.05.15.

Selasa, 05 Mei 2015

05.05.15 : Mentor Kantor & Mandor Kantor

Adanya mahasiswa dan mahasiswi yang magang di kantor, membuat aktifitas bertambah sedikit rempong he he he. Maklum, selain ngurusin kerjaan sehari-hari, masih harus jadi mentor bagi pelajar ato mahasiswa/i yang tengah menyelesaikan tugas akhirnya.

Agak repot dikit, kalo yang dimentor ternyata adikknya artis, Beuuuh bakal betah dan tambah lama aja kalo nanya. Kebetulan tempo hari ada adiknya Alissa Soebandono yaitu Annisa Soebandono. Ya rame dan karyawan ngedadak rame aja. Photo by Eko.


Selain jadi mentor, kadang jika lokasi tempat tinggal deket kantor ya wajib bantuin temen-temen saat server kantor mati karena aliran listrik, ato pas musim hujan, ngedadak ngojek payung buat temen-temen yang membutuhkan. Jadi mandor deh.

Juga, pas ada acara perpisahan karena staf mengundurkan diri ato pindah tugas, Kita-kita juga yang coba mendokumentasikan. Bukannya sok dibutuhkan tetapi memang kebetulan kita punya waktu untuk itu.

Ini dokumentasinya saat seorang pelajar sekolah selesai magang di KALOG dan Edy Gunawan dimutasi menjadi Kacab BHP Kurir Malang. Congrats deh ya.



                                                 Jakarta, 05.05.15.

Senin, 04 Mei 2015

04.05.15 : Hidup Bermakna - Eva, Butet, Aleta

Menonton televisi di sesi Mata Najwa hari Sabtu 02/05, membuat suasana malam minggu jadi romantis sekaligus sendu. Romantis karena merasa kagum dengan perjuangan kaum hawa yang membela kepentingan orang banyak. Luar biasa.

Tersebutlah nama Eva Bande yang membela perjuangan petani Binggai dan Butet Manurung yang menjadi pelopor guru di daerah pedalaman dan pendiri Sokola di sejumlah daerah anak rimba. Perjuangan mereka, sekali lagi luar biasa bahkan ada sisi kemanusiaan yang bisa membuat lingan air mata jatuh tanpa disadari.

Mama Aleta (Aleta Baun) pernah diganjar sebagai nominator pencinta lingkungan. Dia adalah aktivis pecinta lingkungan yang peduli terhadap suatu wilayah di Timor saat sebuah perusahaan tambang akan beroperasi namun ditentang dan akhirnya hengkang.

Kita ? Belum tentu sehebat dan setenar mereka. Nyari tenar ? Gak juga. Dalam diri setiap orang, Allah SWT memberikan keunikan tersendiri, lalu mampukah kita memanfaatkan kelebihan tersebut ? Ya tergantung diri masing-masing.

Buatlah hidup senyaman mungkin. Syukuri yang sudah didapat tetapi jangan sesali yang belum diperoleh. Boleh jadi, kalo kita dapatkan hal itu, belum tentu berbuah kebaikan bagi kita dan keluarga. Allah Maha Tahu. Jadi, sekali lagi, disyukuri saja.

Salutnya, ketiga tokoh diatas merasa mensyukuri apa yang mereka jalani saat ini. Luar biasa. Bila dipikir-pikir oleh orang waras, ngapain juga sih kayak orang kurang kerjaan. Padahal, mereka mendidik dan menginspirasi kita dalam banyak hal.

Itulah keyakinan dan jalan hidup yang ditempuh oleh masing-masing individu. Gak peduli dari ras mana, agama apa dan keturunan siapa. Kedudukan semua orang dimata Sang Pencipta sama. Tinggal hitung amalan dan kebaikan.


Bandung, 04.05.15.