Sabtu, 16 Mei 2015

16.05.15 : Kisah Eskalator Stasiun Gondangdia

Sudah hampir 2 (dua) bulan pengerjaan eskalator di Stasiun Gondangdia blon kunjung usai, entah apa penyebabnya. Masalahnya, eskalator lama sudah dibongkar, diganti dengan unit baru, pun beres dirakit dan sudah dipasang.

Secara kasat mata dan penglihatan masyarat awam, aneh aja. Barang sudah siap koq ngga dioperasikan. Bentuk eskalator yang baru koq “nungging” (baca: lebih tinggi dari eskalator sebelumnya), tidak sejajar dengan tangga dan ukurannya lebih kecil dlsb.

Kita bukan vendor cuma pas kebetulan melihat saat dibongkar, dirakit dan dipasang. Jadi penasaran dunk, koq lama banget mau dioperasikan doank. Tapi berhubung gak berwenang, ya cuma bisa mendokumentasikan aja.


Perkara teknis operasional, ya ada di tangan PT Kereta Api Indonesia (Persero) dibawah komando Kepala Stasiun Gondangdia dan koordinasi Daop1 JAK. Kita tunggu dalam beberapa minggu ke depan ya.

Semoga lancaaaaaar.


Jakarta 16.05.15.

Jumat, 15 Mei 2015

15.05.15 : Langsung Ngantor, Rapat Maning

Jum'at 15/05 subuh, KA Sembrani masuk Stasiun Gambir sebagai persinggahan terakhir bagi para penumpang dengan tujuan Jakarta. Kami pun keluar gerbang dan melenggang ke kantor untuk bersih-bersih dan siap ngantor. Gitu intinya.

Makanya jam 05.00 pagi kami nongol di lobi kantor, bikin heboh OB dan Security. Ada apa pagi-pagi udah ke kantor ? Hi hi hi seneng juga ya klo bikin surprise dan orang kantor pada ribez. Begitu masuk jam kantor, langsung lapor dan membereskan tertib administrasi perjalanan dinas kemarin.

Siangnya, diajak rapat gabungan lintas departemen untuk mengurusi masalah perparkiran di kantor. Setelah itu, melakukan peninjauan ke Stasiun Cikini dan Stasiun Gondangdia sebagai bahan pertimbangan bila nanti, jadi membangun taman parkir di seberang kantor.

Simak cuplikan singkat sewaktu wara-wiri dan jadi seksi sibuk. Cheers.



                                                   Jakarta, 15.05.15.

Kamis, 14 Mei 2015

14.05.15 : Kamis Libur, Kerjaan Jalan Terus

Harusnya, Kamis 14/05 ini sudah istirahat di Jakarta untuk memulihkan stamina, namun apa daya gak dapet tiket buat pulang. Ya nginep nambah semalam di Kota Pahlawan deh.

Hotel pilihan Ibis Rajawali karena lokasinya strategis dan pemandangannya oke juga, selain gedungnya model djadoel. Dibaca dari tembok depan, gedung ini dulunya Gedung Pantja Niaga. Berhubung termasuk cagar budaya, jadi ndak boleh dibongkar. Dirapihkan boleh.

Walaupun libur, toh gak pernah bisa tuh leha-leha di kamar hotel, apalagi sebelahnya Buset ha ha ha. Usai makan siang, kita jalan-jalan ke Stasiun Kalimas dan seperti biasa, melakukan check and recheck ke lapangan, terutama CY dan gudang Kalimas.

Liputannya sebagai berikut, terlampir.


                                                        Surabaya, 14.05.15.

Rabu, 13 Mei 2015

13.05.15 : It’s Dawet Time

Berkeliling Jawa Timur, kurang klop rasanya klo gak ketemu dawet ato kuliner khas setempat. Ikan bakar, santapan malam ala seafood dan lain sebagainya, sok pasti wajib dunk dicoba. Yang gak tahan sate bekicot hiiii .... sereeem.

Hari ini dalam perjalanan dari Stasiun Malang Kotalama menuju Stasiun Ngadiluwih, kita melewati bendungan Karangkates dan mampir di pinggiran jalan sekedar menikmati pemandangan alam dan nyari yang segar-segar.

Alhamdulillah, ketemu es dawet. Mana cuaca sedang panas dan kerongkongan cuma diisi air mineral pula, gak ada salahnya dijejali es dawet 2 (dua) mangkuk dan lumayan ngeganjel bingitz. Alhasi,l gak sempet makan siang karena mepetmya waktu.

Sempat ngobrol dan diskusi dengan KS Ngadiluwih bahwa secara umum track oke, fasilitas gudang minimalis tapi bisa di-upgrade jika berminat. Jangan coba-coba menggeser Stasiun ya karena bangunan ini termasuk aset Heritage alias cagar budaya yang wajib dilestarikan. It's dawet time jadi ngobrol makanan aja dulu hi hi hi.

Dokumentasi perjalanan, monggo disimak bareng-bareng.


OTW Ngadiluwih (ditulis dalam perjalanan ke Surabaya), 13.05.15.

Senin, 11 Mei 2015

12.05.15 : Oleh-oleh Banyuwangi

Apaan sih ? Bukan makan Bro. Kita hobi mendokumentasikan setiap perjalanan, untuk kenang-kenangan semata. Kalo bisa dipake untuk keperluan lain, semisal bisnis ato presentasi karena kebanyakan gambar rel, ya monggo saja.

Ini adalah dokumentasi saat dalam perjalanan menuju Banyuwangi (BW), selama dan ketika cabut dari stasiun terujung di Jawa Timur, yang langsung berbatasan dengan Pulau Bali di seberang sana. Gak heran banyak bule-nya he he he.

Liputannya, simak foto-foto berikut ini. Yang terakhir adalah prospek muatan yang sedang dinego oleh PT KALOG, caranya dengan mensurvei dan memastikan kapasitas terpasang serta menghitung komponen biaya, supaya bisa segera deal.


Cheers. Oh iya, kita masuk ke Banyuwangi di hari ke-2 dalam jadual perjalanan dinas kali ini., tepatnya Selasa 12/05/15. Dua tempat yang berhasil dilihat fisiknya yaitu Stasiun Banyuwangi Baru (BWB) dan Stasiun Argopuro.

Banyuwangi, 12.05.15.

Sabtu, 09 Mei 2015

09.05.15 : Museum Sri Baduga Bandung

Liburan seharusnya diisi dengan kegiatan yang bermanfaat. Tapi ya tergantung diri masing-masing sih, ngga maksa. Buat para pekerja biasanya, hari libur dipake buat bayar hutang tidur alias ngorok seharian (ini kenyataan dan cerita kawan he he he).

Kebetulan, kalo libur sekarang punya kegiatan jalan-jalan ke museum ato tempat sejenis. Bosen khan jalan-jalan ke mall mulu. Salah satu yang dibidik yaitu Museum Sri Baduga yang merupakan sebuah museum yang terletak di kota Bandung, provinsi Jawa Barat, Indonesia.

Museum Negeri Sri Baduga yang terletak di ruas Jalan B.K.R. 185 Tegallega dan berhadapan dengan Monumen Bandung Lautan Api, dirintis sejak tahun 1974 dengan memanfaatkan lahan dan bangunan bekas kewedanaan Tegallega.

Bangunan Museum ini berbentuk bangunan suhunan panjang dan rumah panggung khas Jawa Barat yang dipadukan dengan gaya arsitektur modern; sedangkan bangunan aslinya tetap dipertahankan dan difungsikan sebagai ruang perkantoran.

Tahap pertama pembangunan diselesaikan pada tahun 1980, diresmikan pada tanggal 5 Juni oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Daoed Yoesoef dan diberi nama Museum Negeri Propinsi Jawa Barat.

Areal museum yang luasnya mencapai 8.415,5 m2 dibagi menjadi dua bagian; wilayah publik (public area), mencakup gedung pameran dan auditorium dan wilayah buka publik (non public area), mencakup ruang perkantoran Kepala Museum, Sub Bagian Tata Usaha, Kelompok Kerja Bimbingan dan Edukasi, Kelompok Kerja Konservasi dan Preparasi serta Kelompok Kerja Koleksi (termasuk di dalamnya Gedung Penyimpanan Koleksi).

Sepuluh tahun kemudian, nama museum dilengkapi dengan nama Sri Baduga diambil dari nama raja Sunda yang bertahta di Pakwan Pajajaran sekitar abad ke-16 Masehi. Nama ini tertuang dalam prasasti Batutulis (Bogor) secara lengkap tertulis SRI BADUGA MAHARAJA RATU HAJI I PAKWAN PAJAJARAN SRI RATU DEWATA.

Sebagai Museum umum yang memiliki koleksi dari jenis koleksi Geologika, Biologika, Etnografika, Arkeologika, Historika, Numismatika/Heraldika, Filologika, Keramik, Seni Rupa dan Teknologi ini, tercatat tidak kurang sebanyak 5.367 buah koleksi; terbanyak adalah koleksi rumpun Etnografika yang berhubungan dengan benda-benda budaya daerah.

Jumlah koleksi tersebut tidak terbatas pada bentuk realia (asli), tapi dilengkapi dengan koleksi replika, miniatur, foto, dan maket. Benda-benda koleksi tersebut selain dipamerkan dalam pameran tetap, juga didokumentasikan dengan sistem komputerisasi dan disimpan di gudang penyimpanan koleksi (bandungtourism.com).

Simak liputannya, selama jalan-jalan bareng keponakan dan keluarga (maaf, kurang suka difoto) jadi yang muncul ya foto-foto keponakan he he he.



                                    From Bandung With Love, 09.05.15.