Sabtu, 21 Desember 2019

21.12.19 : Lagi, OJT MDP X



Gelombang OJT MDP X akan terus datang bergiliran sesuai dengan jadual yang telah ditetapkan oleh HRD torpus. Yang diharapkan dari para kandidat, memahami teori dan kondisi lapangan.

Jangan pernah memberi janji ato harapan indah (walau tinggal di Bekasi xi xi xi) tetapi ajarkan apa yang akan mereka hadapi kelak di lapangan serta kiat2 agar bisa mengatasi masalah dengan baik.

Gak semua dibuka tetapi dengan contoh studi kasus, setidaknya sudah punya bekal nanti saat ditempatkan di cabang. Good luck !

Usai sharing session bareng tim MDP X, langsung cabut ke Bandung dan mencoba jalan tol setelah Japek 2 dioperasikan, apa pengaruhnya. Ternyata masih tetap macet walau sudah contra-flow. Luar biasa !

                                                       BeKaSi, 21.12.19

Jumat, 20 Desember 2019

20.12.19 : Kangen Posko Nataru



Belum 6 (enam) bulan purna bhakti dari PT Kereta Api Logistik (KALOG) tapi kadang jika menggunakan kereta api ato KRL, pasti teringat KALOGers maupun kawan2 lama di PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Contohnya, saat pulang dari Tanjung Priok, di stasiun udah ketemu duluan dengan staf PT KAI yang berdinas di Angbar Daop 1 Jak kemudian saat mampir ke Stasiun Jakarta Kota (Jakk) ehh ketemu dengan KS Jakk dan sohib lama yang sekarang di KCI.

Semoga posko Nataru kali pun lancar, aamiin YRA. Selamat bertugas.

                                                       JaKaRTa, 20.12.19

Kamis, 19 Desember 2019

19.12.19 : OJT MDP X



Setelah menempuh pendidikan dikelas selama hampir sebulan, tiba saatnya melaksanakan on the job training (OJT) agar apa yang diajarkan di kelas, bisa dipraktekkan ato dievaluasi implementasinya di lapangan.

Terlampir dokumentasi 3 (tiga) peserta MDP X yang tengah OJT di area Bekasi. Kedepannya jika berkenan, pool Bekasi akan dijadikan model untuk peserta OJT dalam mendalami berbagai kegiatan biz IG.

BeKaSi, 19.12.19

Selasa, 17 Desember 2019

17.12.19 : IOH-C Peduli Kompetensi



Kelompok kerja (pokja) Indonesia Overload + Heavylift Community (IOH-C) di kepengurusan baru, boleh dibilang peduli bingitz untuk mewujudkan semangat profesionalisme di dunia kerja.

Saat ini harus diakui, wadah kegiatan heavylifter (begitu sebutan sementaranya), ya di komunitas semacam ini. Kedepannya harus mulai dipikirkan untuk menjadi asosiasi ato institusi yang lebih greget.

Jika sebelumnya sang pendiri yang sudah almarhum, Armen Aldrin sempat menyampaikan bahwa komunitas ini gak akan ditingkatkan statusnya menjadi asosiasi, mungkin ada pertimbangan tersendiri dan gak banyak yang tahu.

Seiring perkembangan rasanya sudah saatnya komunitas ini maujud jadi asosiasi mandiri sehingga bisa memperjuangkan heavilifter serta memberikan masukan berguna kepada pemerintah, di saat pembanguna  infrastruktur marak.

Bukannya untuk mendapatkan order semata tetapi misinya lebih ke membentuk karakter + kompetensi insan logistik yang mendalami bidang heavylift sehingga gak asal dapat predikat heavylifter tetapi juga didasari ilmu2 yang mumpuni + mendukung.

Sesepuh IOH-C ikut hadir di kesempatan kali ini : Johnny Bax, Winika Agus, Fathur, Ian Sudiana, Dhian serta Budhe Dewi dan juga para milenial yang tertarik di bidang heavylift seperti Eriksen, Reza, Deniks, Amanda, sssst ada yang terlewat dan lupa namanya. Maaf ya.

Yang berhalangan hadir justru pemain inti yang punya gawe untuk isu kompetensi yakni Mbah Baszt + Tulus Martua. Latar belakangnya gak perlu dipertanyakan lagi deh. Tinggal browsing di Mbah Google aja.

Dokumentasi kegiatan, terlampir. Acara berlangsung di Bale Bengong Halim namun syukur alhamdulillah gak sampe banyak yang bengong hingga acara berakhir. Sungguh prestasi luar biasa dan diluar dugaan.

Padahal itu yang kami khawatirkan .... Maklum suasana hujan, udara cukup dingin dan jika gak punya mental baja, niscaya mending tarik selimut dan nyeruput kupi di rumah. Acara mulai jam 19.00 dan tuntas jam 22.00. Thanks God. Mancarli.

                                                    JaKaRTa, 17.12.19

Senin, 16 Desember 2019

16.12.19 : Mengapa Harus Tetap Bekerja Pada Saat Pensiun?



Kebayang ngga sih, biasa sibuk, ehh terus diam di rumah dan ngga ngerjain sesuatu. Ya paling pol beres2 rumah ato anter anak isteri ke sekolah + pasar. Setelah itu main game, WA ato internetan ?

Waaah kayaknya ngebayangin seperti itu berbahaya. Mending doing something. Minimal, ada keinginan sekolah lagi ato nyambi jadi konsultan kalo ilmunya mumpuni dan bekerja jika kondisi fisik masih baik + prima.

Think about it before deciding something but you dont have experience as a retired.


--- quote ---

Mengapa Harus Tetap Bekerja Pada Saat Pensiun ?

Wibi Pangestu PratamaWibi Pangestu Pratama - Bisnis.com

08 Desember 2019  |  08:35 WIB

Secara alamiah, produktivitas seseorang akan menurun seiring dengan bertambahnya usia. Ketika seseorang memasuki masa pensiun ternyata masih banyak yang tidak mengubah gaya hidupnya karena tetap berpenghasilan melalui manfaat dana pensiun.

Selain itu, angka harapan hidup masyarakat Indonesia meningkat sekarang ini menjadi 72 tahun. Hal itu berarti, dengan rata-rata usia pensiun 55 tahun, maka masa pensiun masyarakat bertambah menjadi 17 tahun.

Sayangnya, tujuh dari 10 orang pensiunan di Indonesia justru bermasalah dalam keuangan karena banyak hal, salah satunya tidak memiliki perencanaan dana pensiun.

Data Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) menyebutkan bahwa hanya sekitar 9 persen dari masyarakat yang hidup sejahtera pada masa pensiunnya.

Sebanyak 18 persen masyarakat kembali bekerja di masa pensiun untuk memenuhi kebutuhan keuangannya, dan 73 persen masyarakat bergantung kepada orang lain pada masa pensiunnya.

Merujuk pada data tersebut, tidak mengherankan jika saat ini banyak ditemukan banyak pensiunan yang terpaksa kembali bersusah payah untuk bekerja layaknya pekerja di usia produktif.

Kepala Bidang Humas & Pelayanan Konsumen Asosiasi DPLK Syarifudin Yunus menjelaskan bahwa rata-rata masyarakat yang memasuki masa pensiun sangat bergantung kepada anak dan sanak familinya.

Kondisi ini makin mengkhawatirkan karena berdasarkan data yang sama, jumlah penghasilan masyarakat pada masa pensiun berkurang sekitar 41 persen—51 persen dibandingkan dengan pendapatan saat masih bekerja.

Selisih itu pun hanya berlaku bagi pekerja yang mendapatkan uang pesangon dan aktif sebagai peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan. Total penghasilan setelah pensiun yang diperoleh dari manfaat BPJS Ketenagakerjaan berkisar 12,9 persen dari penghasilan setiap orang pada masa kerjanya.

Adapun, besaran pesangon yang diperoleh, apabila dibagi setiap bulannya akan berkisar 16,4 persen sehingga total yang diperoleh setiap orang berkisar 29 persen dari penghasilan semasa masih bekerja.

“Padahal, idealnya masyarakat mendapatkan penghasilan pada masa pensiun sekitar 70 persen–80 persen dari penghasilan semasa kerja. Artinya, ada kekurangan tingkat penghasilan hingga 51 persen agar masyarakat dapat mempertahankan gaya hidup yang sama dengan saat dia bekerja,” ujar Yunus.

Hal tersebut dapat diartikan bahwa seseorang yang berpenghasilan Rp10 juta per bulan pada masa produktif, rata-rata hanya memiliki penghasilan sekitar Rp5–6 juta per bulan pada masa pensiun.

Pendapatan masa pensiun yang sedemikian kecil ini—sekali lagi—hanya berlaku bagi 32,5 juta penduduk yang tercatat sebagai peserta aktif BPJS Ketenagakerjaan ini.

Bagaimana dengan orang yang tidak memiliki dana pensiun atau menjadi peserta dari BPJS Ketenagakerjaan itu? Yunus mengatakan bahwa dapat dipastikan pendapatan dari pekerja informal pada masa pensiunnya akan jauh lebih rendah dibandingkan dengan yang memiliki dana pensiun.

“Belum lagi orang tua pasti akan menghadapi masalah kesehatan. Apabila penghasilan pada masa pensiun rendah, bergantung pada orang lain, dan tidak memiliki asuransi, maka makin berat jadinya,” ujarnya.

MANFAAT DANA PENSIUN

Senada, Direktur Utama Mandiri DPLK Syah Amondaris mengatakan bahwa masih banyak orang yang menggantungkan urusan finansial pada masa pensiun kepada orang lain, utamanya pada anaknya. Menurutnya, hal ini tidak semestinya terjadi jika masyarakat memiliki kesadaran untuk mengelola dana pensiun sejak dini.

Menurutnya, tujuan didirikannya industri DPLK untuk membantu masyarakat dalam mengelola keuangannya pada masa pensiun. Namun, dalam kondisi masyarakat yang belum siap memasuki masa pensiun, jumlah kepesertaan DPLK pun belum tumbuh signifikan.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah peserta DPLK pada 2018 mencapai 3,2 juta orang, tumbuh 6,02 persen (year on year/yoy) dibandingkan dengan 2017 sebanyak 3,05 juta orang. Dalam 3 tahun terakhir, pertumbuhan jumlah peserta tercatat terus sebanyak single digit.

Syah mengatakan bahwa hal itu akibat rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengelola dana pensiun melalui DPLK, yang kepesertaannya bersifat sukarela. Berbeda dengan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan yang bersifat wajib.

Selain itu, industri DPLK seringkali menghadapi banyak hambatan dari sisi dana untuk melakukan sosialisasi kepada khalayak tentang pentingnya dana pensiun.

“Industri DPLK ini keuntungannya kecil kalau dibandingkan jasa keuangan lainnya. Nah, sosialisasi kan [perlu] biaya juga, sudah keuntungan kecil, perlu keluar banyak biaya, sehingga sosialisasi belum optimal,” ujarnya.

Dia menjelaskan, industri ini perlu stimulus dari pemerintah agar kepesertaan DPLK terus meningkat, salah satunya melalui insentif pajak bagi perusahaan yang mengelola uang pensiun karyawannya melalui DPLK. Insentif pajak bagi peserta perseorangan pun dinilai dapat mendongkrak jumlah kepesertaan DPLK.

Syah pun menilai bahwa pengelolaan dana pensiun melalui DPLK memiliki keuntungan lebih jika dibandingkan dengan BPJS Ketenagakerjaan. Pasalnya, peserta dapat meningkatkan besaran iurannya sehingga jumlah uang terkumpul turut meningkat dan manfaat yang diterima pada masa pensiun turut bertambah. Rendahnya kepesertaan publik dari DPLK tidak karena merasa cukup dengan mengandalkan BPJS Ketenagakerjaan saja.

Direktur DPLK Muamalat Lilies Sulistyowati menilai, publik seringkali merasa bahwa kepesertaannya di BPJS Ketenagakerjaan sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan finansial pada masa pensiun.

Penilaian serupa pun terjadi di sejumlah perusahaan yang hanya memberikan manfaat pensiun wajib, yakni melalui BPJS Ketenagakerjaan. Selain itu, sosialisasi dari pemerintah mengenai keberadaan DPLK masih sangat minim, sehingga manajemen perusahaan yang merasa telah memenuhi kewajibannya merasa tidak perlu menyiapkan dana pensiun lebih bagi karyawannya.

“Seharusnya ada kebijakan pemerintah yang menyatakan bahwa kalau sudah [mendaftarkan karyawannya] ke DPLK ya tidak perlu wajib ke BPJS Ketenagakerjaan. Sekarang ada beberapa perusahaan menutup DPLK-nya dengan alasan dananya sudah dialihkan ke BPJS, karena kalau tidak dia akan kena tegur,” keluhnya.

Pengamat asuransi yang juga Mantan Direktur Utama Jamsostek Hotbonar Sinaga mengatakan, yang patut mendapatkan perhatian lebih dari kasus di atas adalah pekerja sektor informal yang tidak seluruhnya terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan.

“Faktanya, sebagian besar penduduk Indonesia itu jangankan untuk program pensiun, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya saja masih kurang, sehingga tidak ada pendapatan yang disisihkan untuk masa pensiun,” ujarnya.

Jadi, dia mendorong pemerintah agar lebih sering melakukan sosialisa­si tentang pentingnya persiapan da­na pensiun, khususnya melalui DPLK.

Menurut dia, kemandirian finansial pada masa pensiun bukan semata-mata untuk kebaikan setiap orang, melainkan juga untuk stabilitas perekonomian negara.

Dia menjelaskan bahwa inflasi biaya kesehatan menjadi salah satu momok bagi masyarakat berusia tua. Salah satu upaya untuk menjaga kesehatan masyarakat usia tua melalui mempertahankan gaya hidup dan memiliki proteksi asuransi, tetapi dua hal tersebut sulit terjadi jika pengasilan mereka terlampau rendah.

“Dari dulu saya selalu mengatakan kapan sebaiknya program pensiun dimulai? Mulai begitu punya pendapatan. Mulai dari persentase yang kecil seperti 3 persen, 5 persen, uangnya diikutkan ke DPLK. Jadi, makin lama akan makin besar.”

Jika hal tersebut tidak segera diselesaikan oleh para pihak berkepentingan, maka pada masa mendatang akan makin banyak orang tua atau bahkan telah masuk dalam kategori lanjut usia masuk ke dunia kerja demi memenuhi kebutuhan hidup.

Sumber : Bisnis, 06.12.19.

Minggu, 15 Desember 2019

15.12.19 : Resepsi Puterinya Isyak Stamboel



Rupanya walo umur masih dibawah, kalo mo jadi aki2 lebih cepet yang junior ya. Buktinya Isyak Stamboel – rekan sesama penyiar Radio Unpad bandung dijamannya, lebih dulu menikahkan anaknya. Disalip ni yee ...

Kita sih masih menunggu si Kk yang kabarnya mo fokus kerja dan nyekul S2 nantinya. Silahkan ditimbang yang terbaik. Intinya, kita menghadiri acara resepsi sebagai penghargaan Isyak tempo hari datang bezoek saat kami sakit tipes.

Di acara resepsi, ketemu KW alias Krishna Wismara dan tim Fikom Unpad ... jadi saat berfoto mewakili entitas kru Radio Unpad dan juga Fikom Unpad tuh.

                                                JaKaRTa, 15.12.19

Sabtu, 14 Desember 2019

14.12.19 : Nongkrong Bareng Di Green Terrace



Biar kelihatan gahul en enerjik, usai jam kerja menuju Green Terrace TMII buat ngobrol2. Pasti nanya deh, emangnya di Planet Bekasi kagak ada tempat yang representatif gitu ?

Kalo gak bayarin mending baca aja he he he. Ini masalah selera tempat nongkrong, gak usah didebat. Intinya cari suasananya yang adem buat diskusi karena kebetulan walau usai jam kerja, membawa materi tentang pekerjaan juga hua ha ha.

Gak perlu tahu topiknya, lihat aja dokumentasinya. Dengan makan donat + yohurt mari kita hilangkan kepenatan saat kita bekerja. Beres khan.

                                                   JaKaRTa, 14.12.19

Jumat, 13 Desember 2019

13.12.19 : Effective Leadership di IG



Pelatihan ini sebenarnya sangat powerful dan bermanfaat bagi insan Indah Group + Yatama Group. Diselenggarakan selama 2 (dua) hari, yakni Kamis + Jumat ato tgl 12-13/13/19, mulai jam 08.00 s/d 17.00.

Pesertanya pun gak salah, karena merupakan kandidat Kepala Cabang ato Branch Manager (BM) gitu deh. Ditambah lagi pimpinan di beberapa anak perusahaan ato divisi terkait, khususnya komersil. MDP Angkatan X hadir semua, alhamdulillah.

Kami sangat menghargai upaya manajemen, untuk memanggil nara sumber dari eksternal, selain untuk memperkaya khasanah pengetahuan manajemen, juga membangun networking agar nama IG lebih berkibar kedepannya.

Dokumentasi, mulai dari penyampaian materi, role play, diskusi hingga kesan + pesan semua peserta di akhir sesi, ikut mewarnai program pelatihan kali ini. Thanks IG.

                                                     JaKaRTa, 13.12.19

Kamis, 12 Desember 2019

12.12.19 : Ketemu Andi Atman



Setelah jam kerja, langsung cabut ke kawasan Kelapa Gading. Maksud hati mo mampir kesana-kemari tapi waktu gak memungkinkan. Yang dapet cuma 2 (dua) tempat tapi sangat berguna.

Pertama ketemu Bobby dan kedua ketemu sohib lama, skalian janjian makan malam di kwetiauw sapi terkenal dekat Kirana Three situ deh. Tepatnya dibawah stasiun LRT Boulevard Timur.

Andi kenal sejak dia bekerja di Textainer hingga sekarang do’i buka usaha sendiri di area Kelapa Gading. Usahanya gak jauh2 dari biz persewaan kontainer dan sejauh ini sih sukses. Thanks bro.

Maaf waktu ketemuan Bobby gak sempet foto, mungkin lain waktu.

JaKaRTa, 12.12.19.